HAK PATEN (NOKIA VS HTC)

Posted: June 13, 2013 in artikel sederhana


1.     Pendahuluan

Hak paten di Indonesia dapat dijelaskan dalam Undang-Undang, lebih tepatnya Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001. Undang-Undang telah menyebutkan bahwa pengertian hak paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi selama waktu tertentu. Seorang inventor dapat melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Syarat mendapatkan hak paten ada tiga, yaitu

a. Penemuan tersebut merupakan penemuan baru.

b. Penemuan tersebut diproduksi dalam skala massal atau industrial. Suatu penemuan teknologi, secanggih apapun, tetapi tidak dapat diproduksi dalam skala industri (karena harganya sangat mahal / tidak ekonomis), maka tidak berhak atas paten.

c. penemuan tersebut merupakan penemuan yang tidak terduga sebelumnya (non obvious). Jadi bila sekedar menggabungkan dua benda tidak dapat dipatenkan. Misalnya pensil dan penghapus menjadi pensil dengan penghapus diatasnya. Hal ini tidak bisa dipatenkan.

Obyek hak paten ialah temuan (invention) yang secara praktis dapat dipergunakan dalam bidang perindustrian. Itulah sebabnya Hak Paten termasuk dalam jenis hak milik perindustrian, yang membedakannya dengan Hak Cipta. Penemuan yang dapat diberikan hak paten hanyalah penemuan baru di bidang teknologi. Penemuan dimaksud, bisa berupa teknologi yang ada dalam produk tertentu maupun cara yang dipakai dalam proses menghasilkan produk tertentu. Sehingga hak paten bisa diberikan pada produk maupun teknologi proses produksi.

Pengertian hak paten menawarkan perlindungan bagi para penemu bahwa penemuan mereka tidak dapat digunakan, didistribusikan, dijual, dihasilkan secara komersial, diimpor, dieksploitasi, dll tanpa persetujuan dari pemilik sekarang. Ini merupakan satu bentuk monopoli yang diberikan negara kepada seorang pemohon hak dengan imbalan pengungkapan informasi teknis mereka. Pemiliki paten memegang hak khusus untuk mengawasi cara pemanfaatan paten penemuan mereka untuk jangka waktu 20 tahun. Untuk menegakan hak, pengadilan yang bertindak untuk menghentikan suatu pelanggaran hak paten. Jika ada pihak ketiga, yang berhasil membuktikan ketidaksahihan suatu paten, pengadilan dapat memutuskan bahwa paten yang diterima adalah tidak sah.

Hak khusus pemegang paten untuk melaksanakan temuannya secara perusahaan atas patennya baik secara sendiri maupun dengan memberikan persetujuan atau ijin atau lisensi kepada orang lain, yaitu: membuat, menjual, menyewakan, menyerahkan, memakai, menyediakan, untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi yang diberi paten. Hak ini bersifat eksklusif, dalam arti hak yang hanya bisa dijalankan oleh orang yang memegang hak paten, orang lain dilarang melaksanakannya tanpa persetujuan pemegang paten.

 

2.    Studi Kasus

Nokia Corporation adalah produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia serta merupakan perusahaan terbesar di Finlandia. Kantor pusatnya berada di kota Espoo, Finlandia, dan perusahaan ini paling dikenal lewat produk-produk telepon genggamnya.

HTC Corporation (sebelumnya bernama High Tech Computer Corporation) adalah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Taiwan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1997. Saat didirikan, HTC merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual), namun seiring berjalannya waktu, HTC juga mulai menjual produk dengan mereknya sendiri. HTC awalnya hanya memproduksi telepon pintar (smartphone) yang berbasis perangkat lunak Windows Mobile, namun sejak 2009 mulai mengalihkan fokusnya ke sistem operasi Android.
HTC juga adalah anggota Open Handset Alliance, sekelompok produsen perangkat telepon genggam dan operator seluler yang bertujuan memajukan platform perangkat bergerak (mobile) Android.

Masalah paten tidak hanya milik dua vendor terkemuka, Apple dan Samsung. Hal serupa juga sedang mendera vendor dunia lainnya yakni Nokia. Pabrikan handset asal Finlandia itu nyatanya telah meluncurkan gugatan terhadap HTC, RIM (Reseach In Motion) dan ViewSonic karena diduga melanggar hak paten. Pengajuan klaim paten itu dilakukan di Amerika Serikat dan Jerman.

Nokia mempermasalahkan 45 poin hak paten kepada ketiga pihak tersebut yang diduga telah melakukan pelanggaran. Hak paten berkisar pada perangkat keras seperti antena fungsi ganda, manajemen daya, dan radio multimode. Sementara yang mengacu pada fitur software berisi tentang toko aplikasi, multitasking, navigasi, tampilan pesan percakapan, menu dinamis, enkripsi data, dan pengambilan lampiran email pada perangkat mobile.

Seperti yang di lansir oleh Merdeka.com, Minggu (24/3/13) dari Reuters (19/03), pengadilan Mannheim, Jerman, memutuskan memenangkan gugatan Nokia pada pelanggaran hak paten atas sistem penghematan daya baterai yang ditujukan ke HTC.

Kasus ini telah menjadi bagian perang global dalam perebutan hak paten antarperusahaan pembuat gadget baik smartphone ataupun tablet. Gugatan ini sendiri tercatat sebagai salah satu dari 22 kasus gugatan yang telah diajukan Nokia kepada HTC di pengadilan Jerman. Portofolio paten itu sendiri terkait dengan teknologi yang digunakan Nokia untuk menghemat daya baterai ketika terhubung ke jaringan internet.

Keputusan pengadilan Jerman ini tentu saja merugikan pihak HTC. Meskipun demikian, HTC menyatakan bahwa bisnisnya di Jerman tidak akan terpengaruh oleh keputusan penyalahgunaan hak paten tersebut.

Selain itu, pihak HTC akan mengajukan banding atas keputusan Pengadilan tersebut. HTC tengah mengupayakan pencabutan putusan pengadilan Jerman tersebut melalui pengadilan Paten Jerman dan Pengadilan Paten Inggris. Di pihak lain, Nokia juga menegaskan telah mendaftarkan gugatan hak paten teknologi penghematan daya baterai ini di pengadilan Inggris dan Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat. Sidang tersebut rencananya akan dilakukan dalam dua bulan mendatang

 

3.    Kesimpulan

    Nokia merupakan perusahaan besar dan telah lama mendirikan perusahaan ponsel dibandingkan perusahaan HTC. Nokia tentu saja telah melakukan berbagai penelitian dan pengembangan dari perangkat elektronik tersebut sehingga menghasilkan perangkat-perangkat dengan teknologi baru yang tidak luput untuk melakukan paten pada hasil tersebut.

Nokia seharusnya publish hasil temuan yang sudah patenkan tersebut sehingga sebagai perusahaan baru yang hendak memproduksi ponsel mengetahui bahwa rancangan ponsel pada teknologi yang digunakan telah dipatenkan. Setelah mendapatkan informasi tersebut, tentu saja perusahaan baru akan melakukan perbaikan dari desain produk ponsel. Demikian, hal ini tidak akan menjadi sebuah permasalahan besar yang dapat merugikan disalah satu pihak.

 

 

Sumber:

http://www.hakpaten.net/hak-paten-pengertian-hak-paten/

merdeka.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s